Kamis, 19 Mei 2016

Ulumul Quran

Perkembangan ulumul quran
  1. Abad I dan II Hijriyah
Pada masa nabi, abu bakar, dan umar, Ulumul quran belum dibukukan. Namun, dengan merujuk pada definisi ulumul quran sebelumnya. Sesungguhnya pada masa ini, ia mulai tumbuh dan berkembang. Selanjutnya pada masa usman , penulisan Al-quran diseragamkan untuk menjaga persatuan umat islam. Yang dilakukan oleh utsman tersebut merupaakan rintisan bagi lahirnya ‘ilmu Al-Rasm Al-uutsmani.
Pada masa berikutnya, Abu Al-Aswad Al-Duali meletakkan dasar-dasar gramatikal alquran atas perintah Ali Ibn Abi Thalid untuk memproteksi pelafalannya. Hal ini karena pada masa ini ekspansi kerajaan islam menyebar ke berbagai daerah dan penduduk non-Arab sehingga semakin banyak yang memeluk agama islam. Pada saat itulah timbul keresahan dari Ali sehingga beliau member tuk merumuskan kaidah gramatikal bahasa Arab agar bahasa Alquran bisa dipahami secara sistematis. Masa ini disebut sebagai permulaan Ilmu I’rab Al-quran.
Pada saat Nabi telah wafat, para sahabat berpencar diberbagai Negara dan mereka mempunyai murid disetiap tempat tinggal yang baru. Gabungan dari tiga sumber diatas, yaitu penanfsiran Nabi, penafsiran sahabat, dan penafsiran para tabi’in dijadikan satu yaitu “ Tafsir Bi Al-ma’tsur”. Masa ini disebut periode pertama dan perkembangan Ilmu Tafsir al-quran.
Abad ke-2 Hijriyah dikenal dengan masa pembukuan khususnya dalam pembukuan Hadis dengan beragam babnya. Baik rujukan dari rasul, sahabat, maupun para tabi’in. para pelopor tafsir yang dikenal pada masa Ini salah satunya yaitu Yazid bin Harun Al-salami, dan Syu;bah bin Al-Hajjaj. Mereka menghimpun tafsir dengan menukil pendapat dari kalangan sahabat, dan tabi’in.

  1. Abad III dan IV Hijriyah
Beberapa cabang ‘ulumul quran pada abad ini mulai bertambah. Beberapa diantaran sebagai berikut.
  1. ‘Ilmu Asbab Al- Nuzul yang disusun oleh Ali ibn Al-Madiniy.
  2. Ilmu Al-Makki wa Al-Madani yang disusun oleh Muhammad ibn Ayyub Al-Dhirris.
  3. Ilmu Gharib Al-Quran yang disusun oleh Abu Bakar Al-Sijistani.
Selain itu, terdapat beberapa ulama yang menyusun beberapa kitab seputar ‘Ulumul Quran. Seperti :
  1. Muhammad Ibn Khalaf Al-Marzuhan yang menyusun kitab Al-Hawi fi ‘ulum Al-quran sebanyak 27 jus.
  2. Abu Hasan Al-Asy’ariy yang menyusun kitab Al-Mukhtazan fi Ulum Al-Quran.
  3. Abu Muhammad Al-Qassab Muhammad ibn Ali Al-Karakhi yang menyusun kitab Nakat Al-Daallah ala Al-Bayan fi Anwa’I Al- ulum wa Al-Ahkam Al-munbiah an ikhtilafi al-anam.

  1. Abad V dan VI Hijriyah
Pada masa ini cabang Ulumul Quran semakin bertambah, terutama dengan munculnya ilmu I’rab Al-Quran dan ilmu Mubhamat Al-quran. Adapun ulama yang berjasa dalam pengembanga UlumulnQuran pada masa ini adalah sebagai berikut :
  1. Ali ibn Ibrahim bin Said Al-Hufi. Selain memelopori Ilmu I’rab Al-Quran, dia juga menyusun kitab Al-Burhan fi Ulum Al-quran yang terdiri dari 30 jilid. Kitab ini selain menafsirkan al-quran seluruhnya juga menerangkan ilmu-ilmu alquran yang berhubungan dengan ayat-ayat alquran yang ditafsirkan. Karena itu dalam kitab ini, ulumul quran diuraikan secara terpencar, tidak terkumpul dalam urutan bab, atau bisa disebut tidak tersusun secra sisitematis. Meskipun demikian, kitab ini adalah karya besar seorang ulama yang telah merintis penulisan kitab tentang ulumul quran.
  2. Abu Amr Al-Dani yang menyusun kitab Al-Taysir fi Qira’at Al-sab’I dan kitab Al- Muhkam fi Al-Nuqat.
  3. Abu Al-Qasim ibn Abdirrahman Al-Suhaili yang menyusun kitab tentang Mubhamat Al-quran.

  1. Abad VII dan VIII Hijriyah
Pada masa ini ulumul quran mempunyai cabang baru, yaitu ilmu majaz al-quran dan tersusun pula ilmu qiraat. Berikut ini merupakan cabang-cabang ulumul quran yang muncul dan berkembang pada masa ini :
  1. Ilmu majaz Al-quran yang dipelopori oleh Ibn Abd Salam yang terkenal dengan nama Al-Izz.
  2. Ilmu Bada’I Al-quran yang disusun oleh Ibn Abi Al-Isba. Kitab tersebut membahas tentang keindahan bahasa dan kandungan al-quran.
  3. Ilmu Aqsam Al-quran yang disusun oleh Ibn Al-qayyim. Ilmu tersebut membahas tentang sumpah-sumpah yang terdapat didalam al-quran.
Selain itu, terdapat juga beberapa ulama yang menyusun kitab-kitab seputar ulumul quran pada masa ini yaitu :
  1. Badruddin Al-Zarkasyi yang menyusun kitab Al-burhan fi ulum al-quran.
  2. Abu Syamah menyusun kitab Al-Mursyid Al-wajiz fi mayata’allaq bi Al-quran.

  1. Abad IX dan X Hijriyah
Pada abad IX dn permulaan abad X. karangan yang ditulis para ulam tentang Ulumul quran semakin banyak. Masa ini merupakan masa produktif dalam penulisan diskursus ulumul quran dan merupakan puncak kesempurnaan masa penulisan :
  1. Jalaluddin Al-Bulqini menyusun kitab Mawaqi. Al-Suyuthiy memendang Al-Bulqini sebagai ulama yang mempelopori penyusunan kitab ulumul quran yang lengkap, sebab didalamnya telah tersusun 50 macam ilmu-ilmu alquran.
  2. Al-Suyuthiy menyusun kitab Al-Tahbir fi Ulum al-tafsir. Penyusun kitab ini selesai pada tahun 872 H dan merupakan kitab ulumul quran yang paling lengkap karena memuat 102 macam ilmu al-quran. Namun Al- suyuthiy masih belum puas atas karya ilmiah tersebut sehingga kemudian dia menyusun kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Quran yang membahas sejumlah 80 macam ilmu Al-quran.

  1. Abad XIV Hijriyah
Setelah memasuki abad XIV H, penulisan al-quran dengan berbagai cabang ilmunya semakin berkembang lagi, antara lain :
  1. Muhammad Abdul Adhim Al-Zarqaniy yang menyusun kitab Mnahil Al-irfan fi Ulum Al-quran.
  2. Thanthawi Al-Jauhari yang mengarang kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Quran dan kitab Al-quran wa Ulum Al-Ashariyyah.
  3. Musthafa Al-Maraghi yang menyusun risalah tentang “boleh menerjemahkan al-quran”.
  4. Sayyid Quthb yang mengarang kitab Al-Tashwir Al-Fann fi Al-quran dan Fi Zhilal Al-quran,
  5. Muhammda Rasyid Ridha yang mengarang kitab Tafsir Al-quran Al-hakim. Kitab ini menafsirkan al-quran secara ilmiah dan juga membahas ulumul quran.

Tujuan Ulumul Al-quran
Tujuan mempelajari ulumul quran adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui hal-ihwal al-Quran sejak diturunkannya pertama kali pada rasulullah samapi sekarang.
  2. Untuk dijadikan sebagai alat bantu dalam membaca al-Quran, menghayati, memahami isi kandungannya, menggali hokum-hukum ajarannya serta mengambil hikmah dan rahasia didalamnya.
  3. Untuk dijadikan senjata guna melawan orang-orang yang mengingkari dan menentang al-quran.


Kesimpulan
Dari semua uraian diatas, bisa kita simpulkan bahwa pertama kali istilah ‘ulumul quran digunakan dan dirintis oleh Ibn Al-Marzuban pada abad III. Dilanjutkan oleh Ali Ibn Ibrahim Ibn Sai’d Al-hufi pada abad ke V. kemudian dikembangkan oleh Ibn Al-Jauzy pada abad VI dan diteruskan oleh Al-sakhawi pada abad VII. Selanjutnya disempurnakan oleh Al-Zrkasyi pada abad VIII dan ditingkatkan lagi oleh Al-Bulqini Dn Al-Kafiyaji. Hingga akhirnya disempurnakan lagi oleh Al-Suyuthiy pada abad IX dan awal abad XIII. Dan berkembang pesat pada abad XIV.


Refrensi
Hermawan Acep. 2013. “Ulumul Quran Ilmu untuk memahami wahyu”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Gufron Muhammad, Rahmawati. 2013. “Ulumul Quran Praktis dan Mudah”. Yogyakarta: Teras Perum Polri Gowok.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar